Uruguay Jaga Gengsi Latin
PDF

Print
Tuesday, 06 July 2010
ImageSIAP MENTAL, (kiri ke kanan) Pemain Belanda Giovanni van Bronckhorst,
Arjen Robben, dan Wesley Sneijder berlatih di Athlone Stadium, Cape
Town, kemarin. Belanda akan melawan Uruguay dalam laga semifinal dini
hari nanti.

CAPE TOWN(SI) – Uruguay adalah harapan terakhir sepak bola Amerika Latin di Piala Dunia 2010.La Celestepun tidak ingin mengecewakan publik Amerika Selatan saat bertarung melawan Belanda di Stadion Cape Town dini hari nanti WIB. Mereka bertekad memenangi duel semifinal Piala Dunia 2010 dan melaju ke partai puncak.Tersingkirnya Brasil dan Argentina menjadikan La Celeste harapan tersisa Amerika Selatan untuk mencatat prestasi di Afrika Selatan (Afsel).Tidak banyak yang mengira Diego Forlan dkk akan menjadi tumpuan terakhir. Maklum, kualitas mereka di atas kertas kalah ketimbang Brasil atau Argentina. Uruguay juga terseok-seok selama kualifikasi. Tapi kini merekalah wakil dari ”ras” sepak bola Latino yang paling bersinar.Uruguay pun ditunggu Belanda yang sukses menyingkirkan Brasil di babak delapan besar.

Seperti sebelumnya, La Celeste masih berstatus kuda hitam. De Oranje—julukan Belanda—lebih diunggulkan karena mencatat performa impresif sepanjang turnamen. Selain Brasil, anak asuh Bert van Marwijk berhasil mengecundangi Denmark (2-0),Jepang (1-0), dan Kamerun (2-1) di Grup E,serta Slovakia (2-1) di perempat final. Belanda juga memiliki skuad merata yang berisi nama-nama mentereng semacam Wesley Sneijder, Arjen Rooben,Mark van Bommel, dan Robin van Persie.Tentu beda dengan Uruguay yang hanya punya sedikit bintang.

Kondisi kurang difavoritkan tentu tidak membuat Uruguay otomatis menyerah.Mereka berambisi melanjutkan kejutan yang sudah ditorehkan dengan masuk semifinal. Semangat Uruguay ini tidak perlu diragukan karena mereka bukan cuma membela panji negara, tapi seluruh benua. Amerika Selatan merupakan musuh bebuyutan Eropa pada peta persaingan sepak bola internasional.

Saat ini kedudukan antara kedua kawasan itu sama kuat.Amerika Selatan dan Eropa masingmasing mengoleksi sembilan gelar. Trofi Piala Dunia milik Amerika Selatan disumbang Brasil (5), Argentina (2),dan Uruguay (2).Eropa merebut trofi melalui Italia (4),Jerman (3),Prancis (1),dan Inggris (1). Kini Eropa berpeluang menyisihkan Amerika Selatan, mengingat mereka mengirim tiga negara ke semifinal Piala Dunia 2010.

Selain Belanda,Benua Biru mengirim Jerman dan Spanyol—kedua yang terakhir disebut akan berhadapan di Stadion Moses Mabhida,Durban, Rabu (7/7) waktu setempat. Maka, merupakan tugas Uruguay untuk mencegah all-European final terjadi di Afsel,yang bisa mengulang catatan pada turnamen sebelumnya di edisi 1934,1966,1982,dan 2006. ”Seluruh pemain tahu apa yang diharapkan dari kami.

Banyak yang ingin kami mengulang kegemilangan 1930 dan 1950.Namun kami tidak tertekan karenanya.Sejak awal kami ingin melangkah sejauh mungkin. Jangan ragukan semangat kami itu,”koar arsitek Uruguay,Oscar Washington Tabarez, sebagaimana dikutip situs resmi FIFA. Uruguay merupakan negara terakhir yang memesan tiket ke Afsel. Menduduki posisi lima zona Conmebol,mereka harus melakoni playoff melawan peringkat empat zona Concacaf, Kosta Rika.

Juara dunia 1930 dan 1950 ini akhirnya lolos setelah unggul agregat 2-1. Bergabung di Grup A,Uruguay tidak diunggulkan. Mereka memang bernaung satu kelompok bersama tuan rumah,Prancis,dan Meksiko. Tapi, pasukan Tabarez mampu mencatat rekor tak terkalahkan. Setelah ditahan Prancis tanpa gol, mereka mempermalukan Afsel 3-0 dan menaklukkan Meksiko 1-0.Keluar sebagai juara grup,Uruguay ditantang wakil Asia Korea Selatan (Korsel) pada 16 besar.

Di sini Uruguay menunjukkan kualitasnya.Korsel tanpa kesulitan ditumbangkan 2-1.Pada perempat final giliran Ghana yang dibungkam 4-2 melalui adu penalti, setelah kedudukan 1-1 bertahan selama 120 menit. ”Belanda tim berbeda dari lawan yang sudah kami ladeni.Mereka terorganisir dan seimbang tiap lini.Tentu mereka musuh sulit.Namun tidak mustahil kami bisa mengalahkan mereka,”tutur Tabarez.

Sementara itu, klaim Piala Dunia 2010 membuat perekonomian Afsel membaik disangkal beberapa kritikus sosial negara itu.Menurut mereka,perhelatan sepak bola terakbar di muka bumi ini yang terlaksana di negaranya hanya akan menyisakan kenangan bagi yang punya uang. Selepas euforia Piala Dunia 2010 Afsel akan kembali ke masalah lama: kemiskinan. Selama turnamen empat tahunan itu berlangsung, seperti yang dilaporkan oleh theglobeandmail terdapat parade yang aneh.

Parade itu digambarkan sebagai ”orang kaya yang berjalan- jalan melewati si miskin.” Penduduk Millbourne Road di Johannesburg tak semuanya mampu menikmati Piala Dunia 2010. Mereka hanya ikut senang saat ada pesta kemenangan di jalan-jalan utama, kala sejumlah suporter asing merayakan sukses timnya. Penduduk lokal yang menikmati laga Piala Dunia 2010, hanya sebagian kecil saja.

Mayoritas dari para fans sepak bola Afsel yang memegang tiket pun orang keturunan asing yang berkecukupan. Mereka sebagian penduduk kulit putih dan orang-orang keturunan Asia. Itulah salah satu keluhan utama yang muncul di Afsel hingga hari-hari menjelang akhir pelaksanaan Piala Dunia 2010. Para kritikus itu mengatakan bahwa agenda ini merupakan sebuah acara elite, untuk penonton yang kaya dan makmur.

Mereka makin merasakan kemegahan turnamen karena dana besar dikeluarkan Pemerintah Afsel.Tapihanya sedikit memberikan manfaat langsung kepada masyarakat miskin yang ada di sebagian besar wilayah negara ini. Terlepas dari semua penilaian itu,para kritikus juga mengatakan manfaat ajang ini secara psikologis. Menurut mereka, ada getaran yang baik di Piala Dunia 2010, dengan drama dan kegembiraan plus patriotisme.

Semua itu telah membantu untuk menyatukan Afsel, setidaknya untuk sementara. Di seluruh negeri, sekarang juga ada perasaan bangga bahwa Piala Dunia 2010 telah banyak berhasil. Kejahatan dan kekerasan telah minim dan di stadion telah membuat orang telah bahagia.Selain itu, para pengunjung asing terkesan, tantangan logistik telah diatasi dan bangsa ini diliputi pujian global.

Tapi apakah dana besar yang dikeluarkan Pemerintah Afsel itu menghasilkan kesejahteraan nasional? Itu pertanyaan para kritikus saat ini. Bila Piala Dunia 2010 berakhir, Minggu (11/7), euforia pun akan segera memudar. Kemudian masalah besar di Afsel akan tetap ada: kemiskinan, pengangguran,hingga perumahan miskin plus persoalan pelik sosial lainnya.

Jutaan rakyat Afsel kini masih tinggal di gubuk-gubuk reyot tanpa listrik atau air bersih. Salah satu kritikus pelaksanaan Piala Dunia 2010 ini adalah tokoh perjuangan Afsel Marcus Solomon. Pria yang sempat bersama Nelson Mandela dihukum selama satu dekade di Robben Island itu tak sependapat dengan klaim pemerintah. Terutama soal klaim peningkatan ekonomi negaranya.

”Semua yang meriah itu di media. Mereka menjualnya sebagai karunia Tuhan bukan bagi orang miskin, tapi untuk kaum elite. Ini adalah kejahatan untuk menghabiskan begitu banyak uang bagi sepak bola profesional,” kata Solomon. Kritik dari Salomon membuat kaget sejumlah pihak karena di kalangan sepak bola Afsel pria ini cukup kondang. Dia sempat memimpin Makana Football Association, sebuah asosiasi sepak bola di Afsel yang berdiri pada 1966.Kelompok ini mengampanyekan perang terhadap politik Apartheid melalui sepak bola.

”Uang miliaran digunakan untuk jalan raya baru ke stadion.Tapi sementara ini tidak ada akses jalan memadai di lingkungan yang lebih kecil. Orang-orang sangat ingin bermain sepak bola,tapi tidak ada fasilitas.Mereka harus bermain di sisi jalan atau di mana pun mereka bisa.

Piala Dunia ini tidak bermanfaat bagi siapa pun, kecuali beberapa bos sepak bola, ”lanjutnya. Mthembu Eunice,seorang pendiri kelompok masyarakat di perkampungan kumuh yang cukup terkenal di Afsel, Saweto, mendukung kritik Salomon. Bahkan dia memprediksi gelombang protes jalanan di kota-kota setelah turnamen ini berakhir bakal terjadi. (harley ikhsan/estu santoso)

Laporan Wartawan Seputar Indonesia
Maruf El Rumi & Hanna Farhana
AFRIKASELATAN

RCTI TPI Global TV MNC okezone.com